Cerah riuh pagi ini, Sinar hangat menerobos lewat celah dedaunan, Memecah samar dalam kabut, Nyanyian burung kecil yang ceria,
Namun, Tak tampak sinar binar dihatimu kawan, Adakah risalah pelik yang kau rasa ?
Rona memerah wajahmu, Sendu pekat lekat matamu, Sekiranya itu ada,ceritakanlah Sedapatnya kisahmu adalah tabu untuk ku dengar, Cobalah untuk tegar dan terus bertawakal mencari solusinya,
Sekejap,
Dia mencoba menguatkan diri, Mengangkat dagunya yang sedari tadi menempel di pangkal leher, Terbata-bata,dia berkata ................
Aku merasa tak bisa membahagiakan keluargaku, Aku juga merasa hanya jadi beban keluargaku, Setiap ada badai kecil di keluargaku,aku merasa lumpuh.
Tak berdaya mengusir atau sekedar mengarahkan badai itu untuk pergi, Aku pemuda tanpa karya, Aku lelaki bukan tanpa usaha, Aku sendiri, Tak banyak yang aku pikirkan,
Tapi, Kenapa sulit bagiku untuk sekedar menyenangkan hati sendiri, Apa yang sebenarnya harus aku lakukan untuk bisa minimal membuat hatiku tersenyum seperti anak kecil yang dibelikan mainan oleh kakaknya,
Sungguh, Siapapun tak ingin menjadi seperti apa yang kau alami sekarang, Kau pemuda, Kau adalah bekal pemimpin untuk keluarga kecilmu kelak,
Ibumu mungkin akan mengis jik kau bertolok hanya untuk memikirkan keluargamu sekarang, Ayahmu mungkin kecewa atas apa yang menjadi keinginan baikmu itu,
Aku punya sedikit renungan untukmu kawan, Suatu kali,aku merasa sakit dipergelangan tanganku,sehari setelah aku memaksakan mengangkat batu yang menurutku aku tak sanggup mengangkatnya,
Aku optimis bisa mengangakatnya,dan ternyata akupun bisa mengangkatnya, Saat aku merasa tanganku sakit, Aku coba meingat-ingat apa penyebabnya,
Aku sadar kalau hari lalu aku mengangkat batu itu, Hari berikutnya, Badanku merasa semakin tak baik, Bahuku seperti menahan beban yang sangat berat,
Kaki menjadi seperti enggan untukku langkahkan, Panas ditubuhku naik, Tak sengaja,aku menjadi terfikir bahwa sesuatu yang dipaksakan itu sama saja mengantar kita pada hasil yang memuaskan tapi berujung menyakitkan,
Setiap masalah yang hendak kita selesaikan, Setiap keinginan, Hendaknya diluluskan dengan bijaksana, Ini pengalamanku, Sebuah gambaran untukmu, Tentang arti sebuah keseimbangan untuk masalahmu,
Optimis adalah baik, Bercita-cita setinggi langit juga tak jelek, Alangkah bijaksana jika optimis itu berada dibelakang logikamu,
Alangkah mudahnya jika setiap keinginanmu kau tempatkan di atas optimismu, Inginmu membahagiakan orang tua, Pernahkau kau berfikir kalau orang tuamu juga berbuat untuk menyenangkanmu,bukan untuk membebanimu ?
Ingimu meraih masa depan cerahmu, Pernahkah kau berfikir jika kesuksesanmu adalah kebahagiaan orang tuamu ?
Kawan, Setiap masalah pasti berjalan keluar, Bahagiakan dulu hatimu dengan sikap penuh ketenangan,
Tunaikan apa yang menjadi kewajibanmu kepada orang tua setelah kau pandai membahagiakan hatimu sendiri,
Percayalah bahwa senyumu adalah kebahagian terindah orang tuamu,
Orang tua yang baik tak akan menuntut kebahagian anaknya, Batu, Aku ibaratkan sebuah masalah,
Mengangkatnya adalah cita-citaku, Aku coba memindahkannya dengan tangan kecilku, Hasilnya, Tanganku justru sakit,dan membuat sekujur tubuhku merasa tak nyaman,
Karena keegoisan otakku, Karena keoptimisan tanpa nalarku itu, Karena keinginan booodoooohku itu, Fisikku menjadi lemah,
Aku hanya bisa menyesal, Karena setelah kejadian itu aku justru menjadi beban orang tuaku,mereka menjadi cemas atas keadaanku,
Keseimbanganya, Keinginan membahagikan orang tua seperti kesinambungan dalam anggota tubuh kita sendiri, Jika kaki kita sakit,tangan kita ikut merasa sakitnya,
Pikirkanlah terlebih dahulu apa yang menjadi akibat dari apa yang akan kau lakukan,setlah itu baru kau memikirkan hasilnya, Jika tanganmu tak sampai untuk meraihnya,janganlah dipaksa,
Jika hatimu terpaksa hasilnyapun akan kelihatan seperti dipaksakan(tak sempurna) Kesimpulannya, Jika kita menginginkan sesuatu,gunakan keseimbangan batin dan lahirmu,
Karena tak akan sempurna hasilnya jika kita melakukan sesuatu dengan memaksakan salah satunya,
Jika kita belum mampu untuk bertindak,itu belum berarti kita tidak bisa melakuknnya,
Berusahalah untuk menyenangkan diri sendiri,sebelum kau menyenangkan orang lain,
Terkadang orang lainpun sudah ikut senang kala melihat kita tersenyum,
Mencari pasir di pantai menjadi lebih sulit daripada mencari jawaban soal perhitungan tanpa alat hitung,
Mengingat masa lalu menjadi lebih sukar daripada mencari jarum ditumpukan jerami,
Jika fisik merasa tak berdaya,kita gunakan otak pemberian sang maha kuasa dengan bijaksana,
Kita adalah makhluk sempurna, Bukan berarti kita bisa melakukan dua hal secara bersama-sama,
Kita diberi kekuatan fisik sesuai apa yang kita butuhkan, Kita diberi kemampuan otak yang sempurna,tapi hanya sebatas kemampuan fisik kita,
posted from Bloggeroid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar